Selasa, 22 April 2014

DASAR PERILAKU KELOMPOK

         A.  Pengertian Kelompok

Kelompok ( group ) menurut Robbins  mendefinisikan kelompok sebagai dua individu atau lebih, yang berinteraksi dan saling bergantung, yang saling bergabung untuk mencapai sasaran-sasaran tertentu. Sementara Gibson , memandang kelompok dari empat kelompok prespektif, diantaranya :
  1. Dari sisi persepsi, kelompok dipandang sebagai kumpulan sejumlah orang yang  saling berinteraksi satu sama lain, dimana masing-masing anggota menerima kesan atau persepsi dari anggota lain.
  2. Dari sisi organisasi, kelompok adalah suatu sistem terorganisasi yang terdiri dari dua atau lebih individu yang saling berhubungan dengan sistem menunjukkan beberapa fungsi, mempunyai standar dari peran hubungan di antara anggota.
  3. Dari sisi motivasi, kelompok dipandang sebagai sekelompok individu yang keberadaannya sebagai suatu kumpulam yang menghargai individu.
  4. Dari sisi interaksi, menyatakan bahwa inti dari pengelompokkan adalah interaksi dalam bentuk interpedensi.

Dari beberapa pandangan tersebut, Gibson menyimpulkan bahwa yang disebut kelompok itu adalah kumpulan individu dimana perilaku dan atau kinerja satu anggota dipengaruhi oleh perilaku dan atau prestasi anggota yang lainnya.
Dipandang dari proses kemunculannya, kelompok dapat terbentuk karena tindakan manajerial dan karena adanya keinginan individu. Manager menciptakan kelompok kerja untuk melaksanakam pekerjaan dan tugas yang diberikan. Kelompok juga berfungsi dan berinteraksi dengan kelompok lain, masing-masing mengembangkan satu set karakteristik yang unik termasuk struktur, kepaduan peran, norma-norma dan proses. Kelompok juga menciptakan sendiri kultur mereka. Akibatnya, kelompok akan bekerja sama atau  bersaing dengan kelompok lain dan perrsaingan antara kelompok dapat memicu akan adanya konflik.

         B.  Macam – Macam Kelompok dalam Organisasi

Kelompok-kelompok di dalam organisasi secara sengaja direncanakan atau sengaja dibiarkan terbentuk oleh manajemen selaku bagian dari struktur organisasi formal. Kendati begitu, kelompok juga kerap muncul melalui proses sosial dan organisasi informal. Organisasi informal muncul lewat interaksi antar pekerja di dalam organisasi dan perkembangan kelompok jika interaksi tersebut berhubungan dengan norma perilaku mereka sendiri, kendati tidak digariskan lewat struktur formal organisasi. Dengan demikian, terdapat perbedaan antara kelompok formal dan informal.

1. Kelompok Formal
 Kelompok ini dibangun selaku akibat dari pola struktur organisasi dan pembagian kerja yang ditandai untuk menegakkan tugas – tugas. Kebutuhan dan proses organisasi menimbulkan formulasi tipe – tipe kelompok yang berbeda – beda. Khususnya ada dua tipe kelompok formal, diantaranya :
a.   Kelompok Komando (Command Group)
Kelompok komando ditentukan oleh bagan organisasi. Kelompok terdiri dari bawahan yang melapor langsung kepada seorang supervisor tertentu. Hubungan wewenang antara manajer departemen dengan supervisor, atau antara seorang perawat senior dan bawahannya, merupakan kelompok komado.
b.  Kelompok tugas (Task Group)
Kelompok tugas terdiri dari para karyawan yang bekerja – sama untuk menyelesaikan suatu tugas atau proyek tertentu. Misalnya, kegiatan para karyawan administrasi dalam perusahaan asuransi pada waktu orang mengajukan tuntutan kecelakaan, merupakan tugas yang harus dilaksanakan.

   2. Kelompok Informal
Kelompok informal adalah pengelompokan secara wajar dari orang – orang dalam situasi kerja untuk memenuhi kebutuhan sosial. Dengan perkataan lain, kelompok informal tidak muncul karena dibentuk dengan sengaja, tetapi muncul secara wajar. Orang mengenal dua macam kelompok informal khusus diantaranya:
a.   Kelompok Kepentingan (Interest Group)
Orang yang mungkin tidak merupakan anggota dari kelompok komando atau kelompok tugas yang sama, mungkin bergabung untuk mencapai sesuatu sasaran bersama. Para karyawan yang bersama – sama bergabung dalam kelompok untuk membentuk front yang terpadu menghadapi manajemen untuk mendapatkan manfaat yang lebih banyak dan pelayan wanita yang mengumpulkan uang persen mereka merupakan contoh dari kelompok kepentingan. Perlu diketahui juga tujuan kelompok semacam itu tidak berhubungan dengan tujuan organisasi, tetapi tujuan itu bersifat khusus bagi tiap – tiap kelompok.
b.   Kelompok Persahabatan (Friendship Group)
Banyak kelompok dibentuk karena para anggotanya mempunyai sesuatu kesamaan, misalnya usia, kepercayaan politis, atau latar belakang etnis. Kelompok persahabatan ini seringkali melebarkan interaksi dan komunikasi mereka sampai pada kegiatan diluar pekerjaan.

Jika Pola gabungan karyawan dicatat, maka akan segera menjadi jelas bahwa mereka termasuk dalam berbagai macam kelompok yang sering bersamaan. Maka diadakan perbedaan diantara dua klasifikassi kelompok yang luar:  kelompok formal dan informal. Perbedaan utama antara keduanya adalah bahwa kelompok formal ( kelompok komando dan kelompok tugas) dibentuk oleh organisasi formal dan merupakan alat untuk mencapai tujuan, sedangkan kelompok informal (kelompok kepentingan dan kelompok persahabatan) adalah penting untuk keperluan mereka sendiri ( artinya, mereka memenuhi kebutuhan pokok akan berkelompok).




Yang membedakan organisasi formal dan informal :
1. Struktur organisasi 
Dalam struktur organisasi terdapat batasan, hierarki/wewenang dan alur komunikasi
Yang khas dari struktur organisasi :
     a. Spesialisasi kerja/ aktivitas
         contoh : Job description, job spesification , job intruction
     b. Departementalisasi
        Kumpulan pekerjaan dengan kesamaan-kesamaan tertentu. Contoh :        fungsi,                     produk, geografi, proses produksi dan konsumen
     c. Rantai Komando
         Siapa melapor kepada siapa
     d. Rentang Kendali (Span of Control)
     e. Desentralisasi VS Sentralisasi
     f. Formalisasi
        Perilaku individu menjadi formal karena adanya standarisasi.
       Contoh : Jurusan perhotelan UK Petra diwajibkan memakai pakaian seragam                          standar yang ditetapkan oleh UK Petra agar dapat mengikuti proses                                pembelajaran

2. Berbadan Hukum


C. Dasar - Dasar Pembentukan Suatu Kelompok








          D. Tahap – Tahap Pengembangan Kelompok

Kelompok biasanya berkembang melalui sebuah urutan terstandar dalam evolusi. Model lima tahap perkembangan kelompok ( five – stage group – development model ) menyebutkan karekteristik tahapan perkembangan kelompok dalam lima tahap yang berbeda, diantaranya:
1.   Tahap Pembentukan ( forming ), memiliki karakteristik besarnya ketidakpastian atas tujuan, struktur, dan kepimimpinan kelompok tersebut. Para anggotanya “ menguji kedalaman air ” untuk menentukan jenis – jenis perilaku yang dapat diterima. Tahap ini selesai ketika para anggotanya mulai menganggap diri mereka sebagai bagian dari kelompok.
2.   Tahap timbulnya konflik ( storming stage ) adalah satu dari konflik intrakelompok. Para anggotanya menerima keberadaan kelompok tersebut, tetapi terdapat penolakan terhadap batasan – batasan yang diterapkan kelompok terhadap setiap individu. Ketika tahap ini selesai, terdapat sebuah hierarki yang relatif jelas atas kepemimpinan dalam kelompok tersebut.
3.   Tahap normalisasi ( norming stage ) adalah tahap di mana hubungan yang dekat terbentuk dan kelompok tersebut menunjukkan kekohesifan. Dalam tahap ini terbentuk sebuah rasa yang kuat akan identitas kelompok dan persahabatan. Tahap ini selesai ketika struktur kelompok tersebut menjadi solid dan kelompok telah mengasimilasi serangkaian ekspektasiumum definisi yang benar atas perilaku organisasi.
4.   Tahap berkinerja ( performing ) adalah tahap di mana struktur telah sepehunya fungsional dan diterima. Energi kelompok telah berpindah dari saling mengenal dan memahami menjadi mengerjakan tugas yang ada.
5.   Tahap pembubaran ( adjourning stage ). Dalam tahap ini, kelompok tersebut mempersiapkan diri untuk pembubarannya. Kinerja tugas yang tinggi tidak lagi menjadi prioritas tertinggi kelompok. Sebagai gantinya, perhatian diarahkan untuk menyelesaikan aktivitas – aktivitas.





         E.  Analisis Interaksi Kelompok

Kelompok yang terlibat dalam kegiatan komunikasi yang berkaitan dengan tugas dan kebutuhan antarpribadi cenderung mempertahankan keseimbangan mereka. Dengan cara meluangkan waktu yang lebih lama pada kegiatan sosial – emosional dalam tahapan keseimbangan, dan begitu pula sebaliknya. Menurutnya jika suatu kelompok berorientasi pada tugas, pembagian kerja, perbedaan peranan, dan perbedaan wewenang yang dapat mempengaruhi solidaritas kelompok. Pandangan balas penting khususnya bagi ahli komunikasi kelompok karena ia menderita akibat ketegangan mental yang diciptakan oleh tekanan – tekanan kontradiktif yang kaitannya dengan tugas dan kebutuhan antarpribadi.
Teori Analisis proses interaksibeles bales adalah Teori klasik yang di kembangkan untuk menjelaskan pola diskusi kelompok, terutama dalam hal kepemimpinan. Teori yang dicapai adalah proses pembuatan untuk menganalisis komunikasi kelompok.
Selain itu, penelitian menunjukkanbahwa kelompok yang terlibat dalam kegiatan komunikasi yang berkaitan dengan tugas selama satu tahapan, cenderung “ mempertahankan keseimbangan mereka “. Hal ini dilakukan dengan cara meluangkan waktu yang lebih lama pada kegiatan sosio – emosional dalam tahapan berikut, dan begitu juga sebaliknya. Semua kelompok harus mencapai keseimbangan, keseimbangan tugas, dan kebutuhan kepemeliharaan.
Ada tiga tahap dalam model Bales, yaitu:
Tahap 1 : Orientation Phase
Pada tahap orientasi, anggota yang baru masuk dalam suatu kelompok atau baru mendirikan suatu kelompok akan bertanya, mencari dan sling memberi informasi mengenaitujuan kelompok dan hakekat tugas-tugas dalam kelompok, pertanyaan-pertanyaan yang diajukan antara lain. “apa yang akan kita lakukan”, “mengapa kita melakukannya”, “bagaimana kita melakukannya” dan “bagaimana mencapai hasil yang terbaik”.
Pada tahapan ini, anggota kelompok akan mencari konfirmasi dan melakukan orientasi akan keberadaan kelompok tersebut.

Tahap 2 : Evaluation Phase
Pada tahap evaluasi, pertanyaan yang diajukan anggota kelompok berkisar seputar peran anggota kelompok dalam tugas-tugas atau pekerjaan yang dilakukan oleh kelompok. Pada tahap ini terjadi semacam pengekspresian opini dan perasaan dari anggota kelompok tentang berbagai isu yang berkembang.
Tahap 3 : Control Phase
Para anggota kelompok akan saling membuat statement ( pernyataan ) dan mencari serta memberi petunjuk pada sesama anggota. Disini akan bermunculan pendapat-pendapat yang positif atau negatif dari anggota kelompok secara substansial. Pada tahap ini akan mulai tampak solidaritas kelompok dan minat mereka dalam kelompok.

       F. 6 Sifat Kelompok

1. Role (Peran)
Role(s)
Adalah set pola perilaku yang diharapkan yang dikaitkan dengan seseorang yang menduduki posisi tertentu dalam unit sosial.

Role Identity
Sikap dan perilaku tertentu yang sejalan  dengan peran
Role Perception
Pandangan individu tentang bagaimana dia seharusnya bertindak dalam situasi tertentu


2. Norma
Adalah standar perilaku yang dapat diterima dalam suatu kelompok yang dibagi oleh anggota kelompok

Kelas-Kelas Norma
  • Performance norms
  • Appearance norms
  • Social arrangement norms
  • Allocation of recources norms

3. Status
Adalah posisi sosial yang ditetapkan atau peringkat yang diberikan kepada kelompok atau anggota kelompok oleh orang lain

4.  Size
Social Loafing
Kecenderungan individu untuk memperluas sedikit usaha ketika bekerja secara kolektif daripada bekerja secara individual

5. Komposisi
Group Demography
Sejauh mana anggota  kelompok berbagi atribut demografi umum, seperti usia, jenis kelamin, ras, tingkat pendidikan, atau panjang pelayanan di organoxation, dan dampak dari atribut ini pada turnover

Cohorts
individu yang, sebagai bagian dari kelompok, mengadakan atribut umum

6. Cohesiveness
Sejauh mana anggota kelompok tertarik satu sama lain dan termotivasi untuk tinggal dalam kelompok.

Meningkat kepaduan kelompok
  1. membuat kelompok menjadi kecil
  2. mendorong kesepakatan dengan tujuan kelompok
  3. meningkatkan anggota menghabiskan waktu bersama-sama
  4. meningkatkan status grup dan kesulitan masuk
  5. merangsang persaingan dengan kelompok lain
  6. memberikan penghargaan kepada kelompok, bukan individual
  7. mengisolasi kelompok secara fisik 

Group Tasks
   Decision Making
·        Kelompok-kelompok besar memfasilitasi sekelompok informasi tentang tugas-tugas kompleks.
·   Kelompok-kelompok yang lebih kecil lebih cocok mengkoordinasi dan memfasilitasi pelaksanaan tugas-tugas yang kompleks.
·        Tugas-tugas yang sederhana, rutin, dan terstandarisasi mengurangi keperluan yang diproses kelompok, menjadi efektif untuk dikerjakan kelompok dengan baik.


Group Decision Making
Kelebihan:
·        Informasi lebih lengkap
·        Peningkatan perbedaan pandangan
·        Keputusan dengan kualitas tinggi (lebil akurat)
·        Peningkatan penerimaan solusi

Kekurangan:
·        Lebih banyak waktu yang dikonsumsi (lebih lambat)
·        Peningkatan tekanan untuk menyesuaikan diri
·        Dominasi oleh sayu atau beberapa anggota
·        Tanggungjawab yang ambigu

Group Decision-Making Techniques
   1. Interacting Group
·  Kelompok khas, yang mana setiap anggota kelompok berinteraksi satu sama lain secara langsung (face to face).
   2. Nominal Group Tecnique
·   Sebuah metode decision-making kelompok yang mana setiap anggota bertemu face to face untuk mengelompokkan penilaian mereka secara sistematis tapi independent.
   3. Brainstorming
·   Sebuah proses generasi-ide yang mendorong beberapa dan semua alternative sementara memberi ktitik terhadap alternative tersebut.
    4. Electronic Meeting
· Pertemuan dimana para anggota berinteraksi di computer, mengizinkan komentar-komentar tanpa nama, dan pengumpulan voting.








Minggu, 13 April 2014

PERSEPSI dan PENGAMBILAN KEPUTUSAN INDIVIDUAL

Persepsi dan Pengambilan Keputusan Individual

Persepsi adalah proses seseorang mengatur dan mengimprementasikan kesan . Persepsi seseorang belum tentu sama dengan realita yang ada. 
Ada beberapa faktor-faktor yang mempengaruhi persepsi yaitu  Faktor yang terletak dalam diri dimana perseptor memberikan kesan tentang apa yag dia lihat dan pemberian itu dipengaruhi oleh kharakteristik perseptor(sikap,pengalaman,dll) , Faktor yang berasal dari objek atau target yang diartikan yaitu faktor yang berasal dari eksternal(luar) dan  Faktor situasi di mana persepsi itu dibuat dimana keadaan kerja dan keadaan sosial merupakan faktor presepsi.

Persepsi Seseorang : Dimana seseorang memberikan penilaian atau kesan tentang apa yang mereka lihat.
Common Shortcuts in Judging Others
Selective  Perception  = Seseorang tampil mencolok sehingga memudahkan orang lain untukengingatnya
Halo Effect                     = Seseorang yang memiliki kharakteristik namun kita dapat melihat hal yang berbeda diluar kharakter tersebut. Contoh: Budi pemalas namun karena Budi pernah membantu kita mengerjakan tugas, dimata kita Budi anak yang rajin dan pandai.
Contrast Effects           = Dimana seseorang memiliki nilai tambah. Contoh: ketika interview kita dapat melihat seseorang memiliki nilai tambah karena dia pintar.
Stereotyping                 = Kita menilai seseorang berdasarkan presepsi kita. Contoh: Betty dari madura secara tidak langsung ia memiliki logat yang keras dan membentak.

Specific Applications of Shortcuts in Organizations


  • Employment Interview           = Seseorang menilai atau dapat menyimpulkan kesan pada 10 detik di pandangan pertama.
  • Performance Expectations   = Dimana perilaku seseorang karena adanya harapan dari orang lain. Contoh: seorang Direktur menganggap seorang karyawan memiliki kinerja baik. Maka, karyawan tersebut akan terus bekerja giat agar Direkturnya tidak kecewa.
  • Performance Evaluation       = Kinerja karyawan sesuai dengan timbal balik yang didapatkan(bonus, kenaikan gaji, promosi).

MEMPENGARUHI PRESEPSI ORANG LAIN TERHADAP KITA.
Memanipulasi diri kita sesuai dengan pandangan orang lain. Contoh: mengerjakan psikotes yang tidak sesuai dengan diri kita yang sebenar-benarnya),  Membiarkan saja apa adanya atau tidak mempedulikannya.

DECISION MAKING in ORGANIZATIONS

  • Rational Decision Making  = Pengambilan keputusan secara rasional namun decision maker harus memiliki data-data atau informasi yang jelas
  • Bounded Rationality            = Menguragi atau menyederhanakan suatu masalah dengan hanya mengambil hal-hal penting saja.
  • Intuition                                = pengambilan keputusan yang belum tentu terbukti kebenarannya dan tidak rasional.

Situasi Tertentu


Rasional
Rasional Terbatas
Intuisi
Ketersediaan Data
v
V
-
Ketersediaan Waktu
V
V
-
Banyak Alternatif
V
-
V
Tingkat Kepentingan
V
V
V
Resiko
-
-
V
Rutinitas
-
-
V
Orientasi Waktu
V
V
-
Kompleksitas
V
v
-







Bias dan Kesalahan dalam Pengambilan Keputusan
1.      Overconfidence Bias
Adanya kepercayaan besar terhadap diri sendiri.
2.      Anchoring Bias
Kecenderungan seseorang  untuk tertarik pada informasi  diawal dan gagal dalam menyesuaikan diri di akhirnya.
3.      Confirmation Bias
Dimana seseorang memiliki kecenderungan mencari informasi tentang suatu hal lalu meyakininya tanpa melihat dari sudut pandang lain.
4.      Availability Bias
Individu mendasarkan penilaian mereka pada informasi yang sudah ada.
5.      Escalation of Commitment
Keputusan akan tetap diambil walaupun sudah ada informasi yang negatif tentang keputusan tersebut.
6.      Randomness Error
Individu percaya bahwa mereka dapat memprediksi sesuatu secara tidak sengaja.
7.      Risk Aversion
Kecenderungan individu tidak memilih resiko yang lebih besar walaupun lebih menguntukan dibandingkan resiko kecil.
8.      Hindsight Bias
Dimana individu memiliki kecenderungan pura-pura yakin pada suatu hal setelah melihat hasilnya.

INDIVIDUAL DIFFERENCES


  • Personality     : Seseorang pasti memiliki sifat dan kepribadian masing-masing yang akan mempengaruhi keputusan yang mereka ambil.
  • Gender             : Perbedaan geender mempengaruhi pengambilan keputusan antara perempuan dan laki-laki. Dimana perempuan lebih banyak pertimbangan dibanding laki-laki.
  • Mental ability  : Individu yang memiliki mental yang baik akan lebih cepat dan sigap dalam mengambil keputusan.

KENDALA ORGANISASI

        I.      Performance Evaluation
Ketika manajer menganggap bahwa perusahaan yang dinilai baik secara keseluruhan tanpa ada masalah, maka staf bagian menghidari penyampaian informasi negatif yang sampai pada manajer.
      II.       Reward Systems
Pembuatan keputusan dengan memberi penghargaan dengan harapan menciptakan personal yang lebih baik.
    III.        Formal Regulations
Biasanya terletak di organisasi yang sudah besar. Dimana, setiap organisasi memiliki struktur dan kebijakan masing-masing sehingga pengambilan keputusan memiliki batasan-batasan tertentu.
    IV.      System-Imposed Time Constraints
Sebelum adanya pengambilan keputusan demi keberlangsungan perusahaan maka kita harus melihat semua sistem menejemen sebagai pertimbangan pengambilan keputusan.
      V.     Historical Precedents
Keputusan yang diambil sekarang merupakan hasil dari keputusan-keputusan yang dibuat dimasa lampau.
Meningkatkan Kreatifitas dalam Pengambilan Keputusan
         
Berikut adalah langkah-langkah dalam pengambilan keputusan rasional :
1.         Mengidentifikasi masalah
2.         Mengidentifikasikan criteria keputusan
3.         Mempertimbangkan keputusan tersebut
4.         Mengembangkan alternative
5.         Mengevaluasi alternatf-alternatif yang ada
6.         Memilih alternative terbaik

GLOBAL IMPACTIONS
Dampak terhadap perbedaan potensi global mempengaruhi 3 area utama yaitu :
1.    Attributes
 Perbedaan budaya secara tidak langsung juga mempengaruhi sifat dan kharakteristik seseorang.
2.    Pengambilan keputusan
Perbedaan budaya sangat mempengaruhi seseorang dalam pengambilan keputusan(cara berpikir, menanggapi suatu masalah, melihat permasalahan,dll).
3.    Etnik
Dimana etika setiap negara berbeda maka dampak dan pengambilan keputusan setiap negara secara global disesuaikan dengan etika yang ada.

Rabu, 02 April 2014

MOTIVASI

MOTIVASI

         Motivasi adalah keinginan untuk melakukan sesuatu dan menentukan kemampuan bertindak untuk memuaskan kebutuhan individu. Suatu kebutuhan, dalam terminologi berarti suatu kekurangan secara fisik atau psikologis yang membuat keluaran tertentu terlihat menarik.

 Hubungan Antara Motivasi dan Perilaku
Hubungan antara motivasi dan perilaku dapat terwujud dalam 6 variasi, yaitu:
1. Perilaku hanya dilandasi oleh sebuah motivasi
2. Perilaku dapat dilandasi oleh beberapa motivasi
3. Perilaku yang sama dapat dilandasi oleh motivasi yang sama
4. Perilaku yang sama dapat dilandasi oleh motivasi yang berbeda
5. Perilaku yang berbeda dapat dilandasi oleh motivasi yang sama

6. Perilaku yang berbeda dapat dilandasi oleh motivasi yang berbeda

         Teori motivasi dibagi menjadi 2 yaitu teori motivasi klasik dan teori motivasi kontemporer.
Teori motivasi klasik terdiri dari:
1.      Teori Kebutuhan
Menurut Abraham Maslow, manusia memiliki lima tingkat kebutuhan hidup. Kebutuhan tersebut berjenjang dari yang paling mendesak hingga yang akan muncul dengan sendirinya saat kebutuhan sebelumnya telah dipenuhi.
1.      Kebutuhan Fisiologis
Contohnya adalah : Sandang / pakaian, pangan / makanan, papan / rumah, dan kebutuhan biologis seperti buang air besar, buang air kecil, bernafas, dan lain sebagainya.
2.      Kebutuhan Keamanan dan Keselamatan
Contoh seperti : Bebas dari penjajahan, bebas dari ancaman, bebas dari rasa sakit, bebas dari teror, dan semacamnya.
3.      Kebutuhan Sosial
Misalnya adalah : Memiliki teman, memiliki keluarga, kebutuhan cinta dari lawan jenis, dan lain-lain.
4.      Kebutuhan Penghargaan
Dalam kategori ini dibagi menjadi dua jenis, Eksternal dan Internal.
- Sub kategori eksternal meliputi : Pujian, piagam, tanda jasa, hadiah, dan banyak lagi lainnya.
- Sedangkan sub kategori internal sudah lebih tinggi dari eskternal, pribadi tingkat ini tidak memerlukan pujian atau penghargaan dari orang lain untuk merasakan kepuasan dalam hidupnya.
5.      Kebutuhan aktualisasi diri
·         Memusatkan diri pada realitas (reality-centered), yakni melihat sesuatu apa adanya dan mampu melihat persoalan secara jernih, bebas dari bias.
·        Memusatkan diri pada masalah (problem-centered), yakni melihat persoalan hidup sebagai sesuatu yang perlu dihadapi dan dipecahkan, bukan dihindari.
·        Spontanitas, menjalani kehidupan secara alami, mampu menjadi diri sendiri serta tidak berpura-pura.
·        Otonomi pribadi, memiliki rasa puas diri yang tinggi, cenderung menyukai kesendirian dan menikmati hubungan persahabatan dengan sedikit orang namun bersifat mendalam.
·        Penerimaan terhadap diri dan orang lain. Mereka memberi penilaian tinggi pada individualitas dan keunikan diri sendiri dan orang lain. Dengan kata lain orang-orang yang telah beraktualisasi diri lebih suka menerima anda apa adanya ketimbang berusaha mengubah anda.
·        Rasa humor yang ‘tidak agresif’ (unhostile). Mereka lebih suka membuat lelucon yang menertawakan diri sendiri atau kondisi manusia secara umum (ironi), ketimbang menjadikan orang lain sebagai bahan lawakan dan ejekan.
·        Kerendahatian dan menghargai orang lain (humility and respect)
·        Apresiasi yang segar (freshness of appreciation), yakni melihat sesuatu dengan sudut pandang yang orisinil, berbeda dari kebanyakan orang. Kualitas inilah yang membuat orang-orang yang telah beraktualisasi merupakan pribadi-pribadi yang kreatif dan mampu menciptakan sesuatu yang baru.
·        Memiliki pengalaman spiritual yang disebut Peak experience.



2.      Teori X dan Y
                Asumsi Teori X
v   Asumsi yang dimiliki manajer dalam teori X
v   Karyawan pada dasarnya tidak menyukai pekerjaan dan sebisa mungkin berusaha untuk menghindarinya.
v   Karena karyawan tidak menyukai pekerjaan. Mereka harus dipakai, dikendalikan, atau diancam dengan hukuman untuk mencapai tujuan.
v   Karyawan akan menghindari tanggung jawab dan mencari perintah formal, dimana ini adalah asumsi ketiga.
v   Sebagian karyawan menempatkan keamanan di atas semua faktor lain terkait pekerjaan dan menunjukkan sedikit ambisi.

Asumsi Teori Y
v   Para karyawan memandang pekerjaan sama alamiahnya dengan istirahat dan bermain.
v   Seseorang yang memiliki komitmen pada tujuan akan melakukan pengarahan dan pengendalian diri.
v   Seseorang yang biasa-biasa saja dapat belajar untuk menerima, bahkan mencari tanggung jawab.
v   Kreatifitas yaitu kemampuan untuk membuat keputusan yang baik didelegasikan kepada karyawan secara luas dan tidak harus berasal dari orang yang berada dalam manajemen.

3.      Teori  Dua Faktor (Frederick Herzbergs)
Teori dua faktor terbagi bagi menjadi dua bagian, yaitu:
a.      Faktor kebersihan (higiene faktor), adalah faktor pekerjaan mereka yang penting adanya motivasi ditempat kerja. Ini tidak mengarah positif untuk jangka panjang. Tetapi jika faktor ini tidak ada ditempat kerja mereka, maka menyebabkan ketidak puasan bagi pekerja. Dengan kata lain faktor kebersihan adalah faktor-faktor yang wajar dalam pekerjaan, menenangkan karyawan dan tidak membuat mereka puas. Faktor higiene juga disebut sebagai dissatisfiers atau faktor pemeliharaan seperti yang diperlukan untuk menghindari ketidak puasan. Faktor-faktor ini menggambarkan lingkungan kerja. Faktor kebersihan melambangkan kebutuhan fisiologis dimana yang diinginkan individu dan yang diharapkan individu terpenuhi.
Faktor higienis meliputi :
v  Bayaran atau struktur gaji harus sesuai dan masuk akal. Ini harus sama dan kompetitif dengan industri yang sama di domain yang sama.
v  Kebijakan perusahaan dan administrasi kebijakan perusahaan tidak boleh terlalu kaku. Harus adil dan jelas. Ini harus mencakup jam kerja, pakaian kerja, istirahat, liburan, dan lain sebagainya.
v  Tunjangan, para karyawan harus diberikan rencana perawtan kesehatan, manfaat bagi anggota keluarga, program bantuan karyawan dan lain sebagainya.
v  Kondisi fisik tempat kerja, kondisi tempat kerja harus aman, bersih, higienis, peralatan kerja harus diperbaharui dan dilakukan perawatan.
v  Status, status karyawan dalam organisasi harus akrab dan dipertahankan.
v  Hubungan interpersonal, hubungan antar karyawan dengan atasan dan bawahannya harus sesuai dan dapat diterima(harmonis),  seharusnya tidak ada konflik dan tidak ada penghinaan antar karyawan.
v  Keamanan dalam bekerja, organisasi harus memberikan keamanan setiap karyawan dalam melakukan tugas-tugasnya.
b.        Faktor motivasi. Menurut Herzbergs, faktor higienis tidak dapat dianggap sebagai faktor motivator. Faktor motivasi menghasilkan kekuatan positif, faktor-faktor ini melekat untuk bekerja. Faktor ini memotivasi para karyawan untuk memberikan kinerja yang optimal bagi organisasi.

Kekurangan dari teori dua faktor :
a.    Teori dua faktor mengabaikan variabel situasional.
b.    Herzbergs mengasumsikan  hubungan antara kepuasan dan produktivitas. Namun penelitian yang dilakukan Herzbergs menekankan pada kepuasan dan mengabaikan produktivitas.
c.    Keadaan teori tersebut tidak pasti. Analisi harus dibuat oleh penilai. Para penilai dapat merusak temuan dengan menganalisi respon yang sama dengan cara yang berbeda.
d.    Tidak ada ukuran komprehensip kepuasan yang digunakan. Seorang karyawan mungkin menemukan pekerjaannya dapat diterima meskipun fakta bahwa ia mungkin membenci bagian dari pekerjaannya.
e.    Teori ini mengabaikan pekerjaan kasar, meskipun keterbatasan ini, teori dua faktor Herzbergs dapat diterima secara luas.

Sedangkan, teori motivasi kontemporer terdiri dari atas, yaitu:
1.      Teori ERG
         Teori ERG, atau disebut juga Teori Motivasi Clyton Alderfer, merupakan singkatan dari 3 istilah, yaitu E= Existence, R = Relatedness,  dan G = Growth.
            Secara konseptual terdapat persamaan antara teori atau model yang dikembangkan oleh Maslow dan Alderfer, “Existence” dapat dikatakan identik dengan hierarki pertama (basic  needs) dan kedua (safety needs) dalam teori Maslow; “ Relatedness” senada dengan hierarki kebutuhan ketiga (social needs) dan keempat (esteem needs) menurut konsep Maslow dan “Growth” mengandung makna sama dengan “self actualization” menurut Maslow.
            Keinginan memuaskan kebutuhan yang “lebih tinggi” semakin besar apabila kebutuhan yang lebih rendah telah dipuaskan. Sebaliknya, semakin sulit memuaskan kebutuhan yang tingkatnya lebih tinggi, semakin besar keinginan untuk memuasakan kebutuhan yang lebih mendasar terlebih dahulu.

2.     Teori  Penguatan (Reinforcement)
Teori Penguatan adalah teori di mana perilaku merupakan sebuah fungsi dari konsekuensi-konsekuensinya jadi teori tersebut mengabaikan keadaan batin individu dan hanya terpusat pada apa yang terjadi pada seseorang ketika ia melakukan tindakan. Teori terlebih dahulu menggunakan penggunaan kognitif menyatakan bahwa tujuan individu akan mengarahkan tindakannya. Dalam teori reinforcement kita memiliki pendekatan perilaku yang menyatakan bahwa reinforcement membentuk suatu perilaku. Dua teori tersebut jelas bertentangan secara filosofis para ahli reinforement melihat perilaku sebagai akibat dari lingkungan peristiwa kognitif internal bukan masalah yang perlu diperhatikan. Yang mengendalikan perilaku adala reinforcer yakni setiap konsekuensi terhadap tanggapan yang diberikan, meningkatkan kemungkinan diulanginya perilaku tersebut.
Teori reinforcement mengabaikan kondisi dalam diri individu dan berkonsentrasi semata-mata hanya pada apa yang terjadi pada seseorang ketikamerangsang perilaku dari dalam, dan memberikan alat analisis yang tajam kepada faktor-faktor yang mengendalikan suatu perilaku.

3.      Teori Harapan (Expectancy)
Teori harapan / expectancy ini didasarkan pada 3 hal, yaitu :
·         Harapan (Expectancy) .yaitu bentuk dasar dari kepercayaan akan sesuatu yang diinginkan akan didapatkan atau suatu kejadian akan bebuah kebaikan di waktu yang akan datang.
·         Nilai (Valence) yaitu respon terhadap outcome seperti perasaan posistif, netral, atau negative.
·         Pertautan (Instrumentality) yaitu penilaian tentang apa yang akan terjadi jika berhasil dalam melakukan suatu tugas (keberhasilan tugas untuk mendapatkan outcome tertentu).

4.      Teori Penetapan Tujuan (Goal setting)
Teori ini menunjukkan adanya keterkaitan antara tujuan dan kinerja seseorang terhadap tugas.Tujuan yang spesifik dan sulit akan menghasilkan kinerja yang lebih baik daripada tujuan yang mudah. Teori ini mengemukakan bahwa dalam penetapan tujuan memiliki 4 macam mekanisme motivasional, yaitu :
·                Tujuan-tujuan mengarahkan perhatian
·                Tujuan-tujuan mengatur upaya
·                Tujuan-tujuan meningkatkan persistensi
·                Tujuan-tujuan menunjang strategi-strategi dan rencana-rencana kegiatan.

5.      Teori Keadilan (Equity Theory)
                Teori equity pada intinya adalah bahwa bila karyawan merasakan suatu ketidakadalian mereka dapat membuat suatu atau lebih dari lima pilihan tersebut :
1.        mengubah input atau outcome mereka ataupun orang lain
2.        berperilaku sedemikian rupa sehingga menyebabkan orang lain mengubah input atau outcome mereka
3.        berperilaku sedemikian rupa untuk mengubah input atau outcome mereka
4.        memilih acuan perbandingan yang berbeda
5.        keluar dari pekerjaan mereka

Secara khusus teori tersebut menetapkan 4 dalil yang berkaitan dengan penggajian yang tidak adil, yaitu:
·         pembayaran diberikan berbasis waktu, karyawan yang diberikan pernghargaan yang lebih akan berproduksi lebih banyak daripada karyawan yang dibayar menurut standar
·         pembayaran menurut kuantitas produksi, karyawan yang diberi penghargaan yang lebih akan memproduksi lebih sedikit unit namun berkualitas tinggi daripada karyawann yang dibayar menurut standar
·         pembayaran menurut waktu, karyawan yang diberi penghargaan kurang akan menghasilkan kualitas output yang lebih sedikit atau lebih buruk

·         pembayaran menurut kuantitas produksi, karyawan yang diberi penghargaan kurang akan memproduksi sejumlah besar unit yang berkualitas rendah dibanding dengan karyawan yang dibayar menurut standar

6. Teori Kebutuhan (McClelland)                    
Teori ini berfokus pada 3 kebutuhan (3N):
    1. Kebutuhan akan Prestasi (Need of Achievement) : dorongan untuk unggul, berprestasi berdasar standar untuk bekerja keras supaya sukses.
    2. Kebutuhan akan kekuasaan (Need of Power): kecenderungan menikmati kekuasaan, bertarung untuk dapat mempengaruhi orang lain, berorientasi pada status, dan gengsi.

    3. Kebutuhan akan kelompok pertemanan (Need for Affiliation): cenderung menyukai situasi yang kooperati daripada situasi kompetitif, dan menginginkan hubungan dengan derajat timbal balik yang tinggi.

Motivasi: Dari Konsep ke Penerapan
Management by Objectives (MBO)
Suatu program yang menetapkan sasaran meliputi partisipatif berwujud, dapat diperiksa kebenarannya.

MBO dengan teori Goal-Setting
Didasarkan pada tujuan-tujuan perusahaan, secara berurutan disusun tujuan untuk divisibahkan sampai satuan kerja yang terkecil untuk penetapan sasaran kerja untuk setiap karyawan dalam waktu tertentu.

Program Pengakuan Karyawan
Pengakuan karyawan adalah bentuk perhatian pribadi, penunjukan apresiasi atas pekerjaan yang dilakukan dengan baik kepada karyawan.

Berdasarkan teori penguatan (Reinforcement), memberikan imbalan atau pujian pada karyawan ada bermacam-macam, misalnya: memberi sambutan atau kata-kata yang membangun, mengirim catatan atau e-mail yang positif, dan sebagainya.

4 Bentuk keterlibatan karyawan:
a. Manajemen Partisipatif: proses dimana bawahan ikut berpartisipasi mengambil keputusan untuk memberikan masukan pada atasannya.
b. Manajemen representative: menempatkan posisi uruh setara dengan manajemen dan pemegang saham.
c. Lingkaran mutu: kelompok kerja yang terdiri dari beberapa karyawan yang membahas masalah, solusi, dan tindakan yang harus dilakukan di masa depan.
d. Rencana kepemilikan saham karyawan: rencana tunjangan yang direncanakan perusahaan dimana karyawan memperoleh sebagian dari tunjangan tersebut  
                                                
Program Upah Variabel
Beberapa macam program upah variable: upah per unit yang dihasilkan karyawan, intensif, upah, bonus.
Keuntungan Flexible
Hal ini memungkinkan karyawan untuk memilih dan mengambil keuntungan sesuai dengan kebutuhan.